Kamis, 14 Agustus 2014

permainan gundu/kelereng

Masih ingatkah para gamers dengan permainan tradisional yang satu ini? Adakah diantara kalian yang pernah memainkannya? Atau ada yang belum tahu sama sekali? Kelereng atau gundu atau guli adalah salah satu permainan yang menjadi favorit sebelum masuknya game modern baik dari konsol ataupun PC, khususnya bagi anak laki-laki. Banyak sekali jenis permainan yang bisa dimainkan menggunakan gundu.
Kelereng atau Gundu, Sekedar Sejarah atau Masih Eksis?
Gundu atau Kelereng atau Guli berbentuk seperti bola dalam ukuran kecil. Biasanya berdiameter sekitar 1 cm. Gundu biasanya terbuat dari bahan kaca. Ada yang bening, ada yang putih, ada yang berwarna, ada yang mengkilap, dan ada gundu besar yang berdiameter kira-kira 3 cm atau sebesar baso. Banyak sekali ragam permainan yang bisa dimainkan dengan gundu.

Salah satu jenis permainan yang sangat populer adalah dengan bermain menggunakan lingkaran kecil yang digambar di atas tanah. Setiap pemain meletakkan gundu mereka kedalam lingkaran tersebut. Jumlah gundu yang diletakkan harus sama setiap pemainnya, bisa masing-masing 1 buah atau lebih, sesuai dengan kesepakatan. Lalu dibuat lagi 2 buah garis sejajar dimana salah satu garis tersebut dekat dengan lingkaran yang tadi. Kita namakan saja garis yang dekat dengan lingkaran sebagai garis A dan garis yang jauh dari lingkaran sebagai garis B. Dari garis A, masing-masing pemain melemparkan gundu mereka (bukan gundu yang didalam lingkaran) ke arah garis B. Gundu ini biasanya disebut dengan gacok. Siapa yang bisa memposisikan gacoknya paling dekat dengan garis B tanpa melewati garis tersebut, akan bermain lebih dahulu. Pemain yang memposisikan gundunya melewati garis B akan dianggap kalah.

Terdapat 2 metode untuk bisa memenangkan permainan ini:
  • Membidik gundu yang berada di dalam lingkaran. Para pemain akan berusaha menggunakan gacok untuk membidik gundu yang berada di dalam lingkaran agar gundu-gundu tersebut bisa keluar dari dalam lingkaran. Jika berhasil, maka dia berhak untuk memiliki gundu-gundu yang keluar dari dalam lingkaran tersebut. Dia dapat melanjutkan permainan sampai tidak ada gundu yang bisa keluar dari lingkaran atau gundu yang berada di dalam lingkaran habis. Namun syaratnya, gacok yang dia miliki harus tetap berada di luar lingkaran. Jika ternyata gacoknya berhenti di dalam lingkaran, maka dia akan dianggap kalah, bila sebelumnya dia pernah membuat gundu yang berada di dalam lingkaran keluar dari dalam lingkaran, maka gundu-gundu tersebut harus dikembalikan ke dalam lingkaran.

  • Membidik gacok pemain lain. Jika ada pemain yang bisa membidik dan mengenai gacok pemain lain dengan gacok miliknya, pemain ini berhak mengambil gundu dari dalam lingkaran sejumlah gundu yang diletakkan oleh lawannya tersebut juga dapat tetap terus melanjutkan permainannya, bisa dengan cara membidik gacok pemain lain atau dengan cara membidik gundu yang berada di dalam lingkaran. Pemain yang menjadi korban, tidak berhak lagi untuk bermain atau dianggap kalah.
Jika pemain pertama meleset dalam bidikannya, baik itu membidik gacok pemain lain atau mengeluarkan gundu yang berada di dalam lingkaran, atau gacoknya berhenti didalam lingkaran. Maka giliran pemain lainnya yang akan bermain berdasarkan urutan dari yang terdekat sampai yang terjauh dari garis B.
Itulah sekilas salah satu permainan tradisional yang ada di tanah air Indonesia kita yang tercinta ini. Semoga dari begitu banyaknya ragam dan jenis permainan tradisional yang dimiliki bangsa ini tidak hilang begitu saja ditelan modernisasi jaman. Ayo para gamers, mari kita lestarikan budaya Indonesia melalui hobi kita bermain games dengan tetap memainkan, mengajarkan, atau paling tidak mengingat permainan ini.

SEJARAH PERMAINAN PANJAT PINANG

Panjat pinang berasal dari zaman penjajahan Belanda dulu. lomba panjat pinang diadakan oleh orang Belanda jika sedang mengadakan acara besar seperti hajatan, pernikahan, dan lain-lain.yang mengikuti lomba ini adalah orang-orang pribumi. Hadiah yang diperebutkan biasanya bahan makanan seperti keju, gula, serta pakaian seperti kemeja, maklum karena dikalangan pribumi barang-barang seperti ini termasuk mewah. sementara orang pribumi bersusah payah untuk memperebutkan hadiah, para orang-orang Belanda menonton sambil tertawa. tata cara permainan ini belum berubah sejak dulu. Bisa dibayangkan kondisi pada masa penjajahan, sementara warga negara Indonesia bersusah payah dengan berlumuran keringat, para Penjajah Belanda dan keluarganya tertawa terbahak bahak melihat penderitaan Bangsa Indonesia. Dan mungkin saat ini, ketika perayaan 17 Agustus, mereka masih tertawa terbahak bahak, menyaksikan bahwa budaya yang mereka buat dengan tujuan melecehkan Bangsa Indonesia, ternyata justru di lestarikan.
Saat ini bentuk permainan ini masih bertahan hingga sekarang, ada pihak yang tidak mempermasalahkan sejarah permainan ini, tapi ada juga yang tidak setuju dengan budaya ini. Jika sejarah panjat pinang begitu menyakitkan mengapa harus di lestarikan. Ada beberapa kontroversi seputar Panjat Pinang. Sementara sebagian besar Indonesia percaya itu adalah tantangan pendidikan yang mengajarkan orang untuk bekerja sama dan bekerja keras dalam mencapai tujuan mereka, ada orang-orang yang mengatakan Panjat Pinang adalah tampilan merendahkan yang mengirimkan salah jenis pesan untuk pemuda Indonesia. Ada juga isu lingkungan mengurangi sejumlah besar kacang-pohon untuk suatu perayaan hedonistik.Apapun kontroversi yang ada Panjat Pinang selalu menjadi tradisi yang unik di negara Indonesia.